HALLOBUNDA.CO – Mendengar kata pertama si Kecil sering menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Setelah “mama”, “ayah”, “mau”, atau nama benda favorit mulai muncul, perhatian orang tua biasanya bergeser pada satu pertanyaan: bagaimana agar kosakatanya terus bertambah? Yang perlu diingat, perkembangan bahasa bukan perlombaan mengumpulkan sebanyak mungkin kata. Anak juga perlu belajar memakai kata untuk tujuan yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari.
Kosakata yang fungsional membantu anak meminta sesuatu, menolak, mencari bantuan, berkomentar, menjawab, menyebut tindakan, dan berbagi perhatian dengan orang lain. Karena itu, stimulasi setelah kata pertama sebaiknya tidak hanya berupa pertanyaan “Ini apa?” berulang-ulang. Anak membutuhkan percakapan yang kaya, responsif, dan terkait langsung dengan apa yang sedang ia lihat, lakukan, atau rasakan.
Kata Pertama Bukan Garis Akhir, tetapi Awal Perkembangan Bahasa
Perkembangan komunikasi berlangsung bertahap dan setiap anak dapat mencapai keterampilan pada waktu yang sedikit berbeda. CDC mencatat bahwa pada usia 15 bulan sebagian besar anak mencoba mengucapkan satu atau dua kata selain “mama” atau “dada”. Pada 18 bulan, sebagian besar mencoba tiga kata atau lebih selain panggilan orang tua. Menjelang usia 2 tahun, salah satu milestone komunikasi adalah menggabungkan setidaknya dua kata, misalnya “mau susu”.
Panduan ASHA menggunakan rentang usia dan menekankan bahwa milestone tidak dimaksudkan sebagai alat diagnosis. Untuk usia 19–24 bulan, ASHA mencantumkan penggunaan dan pemahaman setidaknya 50 kata yang beragam serta kemampuan menggabungkan dua kata atau lebih sebagai contoh keterampilan dalam rentang tersebut. Artinya, orang tua sebaiknya melihat pola perkembangan secara keseluruhan, bukan terpaku pada satu angka pada satu hari tertentu.
Apa yang Dimaksud Kosakata Fungsional?
Kosakata fungsional adalah kata yang benar-benar membantu anak berkomunikasi. Nama benda memang penting, tetapi bahasa akan menjadi lebih berguna ketika anak juga mengenal kata kerja, kata sifat, kata sosial, kata lokasi, dan kata untuk menyatakan kebutuhan. Misalnya, bukan hanya “bola”, tetapi juga “lempar”, “besar”, “jatuh”, “lagi”, “punya aku”, atau “di sana”.
Variasi inilah yang nantinya memudahkan anak menggabungkan kata menjadi frasa dan kalimat. Jika anak hanya banyak mengenal nama benda, ia mungkin memiliki daftar kata yang panjang tetapi masih kesulitan menyampaikan maksud yang lebih kompleks.
7 Cara Mengembangkan Kata Pertama Menjadi Kosakata yang Lebih Kaya
1. Tambahkan satu tingkat dari ucapan anak
Ketika anak berkata “mobil”, Bunda dapat merespons “mobil merah”, “mobil jalan”, atau “mobil Ayah”. Teknik memperluas ucapan seperti ini memberi contoh bahasa yang sedikit lebih kompleks tanpa memaksa anak mengulang. Jika anak belum mengucapkan kata, respons gesturnya tetap dapat diberi model verbal.
2. Kenalkan kata kerja sebanyak nama benda
Saat bermain, gunakan kata seperti buka, tutup, dorong, tarik, lompat, tidur, makan, minum, jatuh, dan ambil. Kata kerja sangat berguna karena membantu anak membentuk pesan. “Kucing” adalah nama, tetapi “kucing tidur” sudah membawa informasi yang lebih lengkap.
3. Masukkan kata sosial dan kata kebutuhan
Kata seperti “lagi”, “habis”, “tolong”, “mau”, “tidak”, “sini”, “dadah”, dan “bantu” memiliki nilai komunikasi tinggi. Pilih kata yang sering dibutuhkan anak dalam rutinitasnya sehingga ia punya alasan nyata untuk menggunakannya.
4. Beri pilihan, lalu tunggu respons
Alih-alih bertanya “Mau apa?”, berikan dua pilihan yang jelas: “Mau pisang atau roti?” Setelah itu beri jeda beberapa detik. Jika anak menunjuk, sebutkan pilihannya dengan natural. Hindari menahan makanan atau kebutuhan dasar terlalu lama hanya agar anak terpaksa berbicara.

Subscribe to my channel