Dokter Andreas juga mengingatkan kalau menonton bukan solusi membuat anak tenang, jadi orang tua wajib menyibukkan anak dengan kegiatan selain dengan gadget.
“Menonton bukan solusi membuat anak tenang, sejatinya anak itu emang aktif dan selalu explore dunia sekitar,” ungkap dokter Andreas.
“Jadi sebaiknya berikan kebebasan anak untuk belajar secara terarah dan bertanggung jawab, disiplin penting tapi eksplor harus tetap dilakukan,” lanjutnya.
Tapi, bukan berarti gadget dilarang sama sekali, karena pasti anak juga melihat orang tuanya memegang ponsel sehari-harinya. Kuncinya adalah dengan selalu membatasi sesuai dengan usianya.
Jika ingin memberikan gadget pada si kecil harus waspada, ada baiknya untuk memperhatikan hal-hal di bawah ini.
Youtube Shorts Tidak Sesuai untuk Anak-anak

Youtube Shorts sejatinya adalah konten pendek dengan panjang 60 detik, hal ini termasuk konten UGC (user generated content).
Namun, jika tidak diawasi ada beberapa konten berbahaya yang tidak cocok ditonton oleh anak-anak.
Berhubung kita tidak dapat menentukan konten apa saja yang muncul dalam setiap slide di Youtube short, maka sebaiknya orang tua tidak mengizinkan anak-anak untuk menontonnya.
Berikut adalah beberapa konten yang perlu diwaspadai, karena bisa mempengaruhi kondisi kesehatan mental anak.
1. Kekerasan dan Senjata
Anak yang sering terpapar adegan kekerasan cenderung memiliki tingkah laku yang bermasalah mulai dari pikiran bunuh diri hingga melukai orang lain ketika kesal atau marah.
Hingga bahkan bisa saja si Kecil terkena gangguan mental lantaran terkena paparan dari fitur tersebut.
2. Kata-Kata Kasar
Melihat adegan dengan kata-kata kasar bisa juga akan ditiru oleh anak, padahal si Kecil belum mengetahui arti dari kata tersebut.
Hal tersebut malah akan membuat si Kecil cenderung menunjukkan agresif fisik dan verbal.
3. Gambar Dewasa
Sebuah studi mengatakan jika anak yang sudah terpapar dengan gambar dewasa di usia muda akan rentan mengikutinya.
Bisa jadi si kecil akan melakukan hubungan suami-istri pada usia belasan tahun.