Anak Sering Jajan? Begini Cara Membangun Kebiasaan Makan Bergizi Seimbang

Syafaria Hadyandari
11 Min Read
Keluarga makan bersama untuk membangun kebiasaan makan bergizi seimbang pada anak.
Keluarga makan bersama untuk membangun kebiasaan makan bergizi seimbang pada anak.

HALLOBUNDA.COSaat anak lebih bersemangat melihat camilan daripada menu makan utama, orang tua mudah merasa khawatir. Apakah kebutuhan gizinya tercukupi? Apakah jajanan akan mengganggu pertumbuhan? Kabar baiknya, kebiasaan makan bukan sesuatu yang terbentuk dalam satu malam. Pola tersebut dapat diperbaiki secara bertahap melalui lingkungan makan yang konsisten, menu yang sesuai usia, dan teladan keluarga.

Kebiasaan Makan Anak Dimulai dari Rumah

Anak belajar makan bukan hanya dari rasa makanan, tetapi juga dari apa yang tersedia di rumah, kapan keluarga makan, bagaimana orang tua berbicara tentang makanan, dan reaksi orang dewasa ketika anak menolak. Bila buah, lauk, dan sayur jarang terlihat, sedangkan minuman manis serta snack selalu mudah diambil, pilihan anak pun akan mengikuti lingkungan tersebut.

Baca Juga  Salah Satunya Bisa Bantu Meredakan Mual! Ini 8 Manfaat Buah Sirsak untuk Ibu Hamil

Karena itu, perubahan paling efektif biasanya bukan dimulai dengan melarang anak, melainkan dengan memperbaiki sistem di rumah. Orang tua menentukan apa yang disediakan, kapan waktu makan, dan di mana anak makan. Anak diberi ruang untuk menentukan apakah ia ingin makan serta berapa banyak dari makanan yang sudah disediakan. Pendekatan ini membantu mengurangi tarik-menarik kekuasaan saat makan.

Apa yang Dimaksud Gizi Seimbang untuk Anak?

Gizi seimbang berarti anak memperoleh energi dan zat gizi dari beragam kelompok pangan sesuai usia, aktivitas, kondisi kesehatan, dan tahap tumbuh kembangnya. Dalam praktik sehari-hari, menu dapat terdiri dari makanan pokok, lauk sumber protein, sayur, buah, serta cairan yang cukup. Tidak setiap kali makan harus tampak “sempurna”; keseimbangan dapat dinilai dari pola makan sepanjang hari dan minggu.

Baca Juga  Menghadapi GTM Anak: 7 Langkah Tenang agar Waktu Makan Tidak Menjadi Pertarungan

Kementerian Kesehatan memperkenalkan konsep Isi Piringku sebagai panduan visual. Untuk anak, porsi tetap perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan makan. Protein hewani seperti telur, ikan, ayam, daging, atau produk susu dapat dipadukan dengan protein nabati seperti tempe, tahu, dan kacang-kacangan. Variasi penting karena setiap bahan pangan membawa kombinasi zat gizi yang berbeda.

Jadwal Makan Membantu Anak Mengenali Lapar dan Kenyang

Anak yang mengemil sedikit demi sedikit sepanjang hari dapat datang ke meja makan tanpa rasa lapar. Sebaliknya, jeda makan yang terlalu panjang membuat anak sangat lapar, mudah rewel, atau makan terburu-buru. Jadwal yang dapat diprediksi membantu tubuh anak mengenali pola lapar dan kenyang.

Baca Juga  Tinggi Badan Anak Annisa Pohan Capai 170 cm di Usia 15 Tahun, Ternyata ini Rahasianya!

Untuk bayi dan anak kecil, frekuensi makan perlu mengikuti usia. WHO (World Health Organization) merekomendasikan makanan pendamping mulai usia 6 bulan. Bayi 6-8 bulan umumnya menerima makanan pendamping 2-3 kali sehari, kemudian meningkat menjadi 3-4 kali sehari pada usia 9-23 bulan, dengan makanan selingan bergizi sesuai kebutuhan. Rekomendasi individual dapat berbeda, terutama bila anak memiliki kondisi medis atau masalah pertumbuhan.

  • Tetapkan waktu makan utama dan selingan yang relatif konsisten.
  • Berikan air putih di antara waktu makan; batasi minuman yang membuat cepat kenyang.
  • Sediakan durasi makan yang wajar, lalu akhiri tanpa ancaman atau hukuman.
  • Hindari snack terus-menerus menjelang makan utama.

Share this Article
Reading: Anak Sering Jajan? Begini Cara Membangun Kebiasaan Makan Bergizi Seimbang