
7 Hal yang Bisa Bunda Amati Selain Nilai Akademik
Pertama, amati cara anak mengenali dan menyampaikan perasaan. Apakah ia mulai dapat mengatakan “aku marah”, “aku takut”, atau “aku kecewa”, meskipun masih membutuhkan bantuan untuk menenangkan diri?
Kedua, lihat kemampuan anak pulih setelah mengalami frustrasi. Tujuannya bukan agar anak tidak pernah menangis atau marah, tetapi apakah ia perlahan dapat kembali ke aktivitas dengan dukungan yang sesuai.
Ketiga, perhatikan hubungan sosial. Apakah anak mulai tertarik bermain bersama, menunggu giliran, meminta izin, atau memperhatikan ketika orang lain sedih? CDC mencantumkan kemampuan sosial-emosional seperti memperhatikan orang lain yang sedang kesal pada usia dua tahun dan bergabung bermain dengan anak lain pada usia tiga tahun sebagai contoh milestone yang berkembang seiring usia.
Keempat, perhatikan komunikasi. Anak tidak harus menjadi yang paling banyak bicara di kelas. Yang lebih penting adalah apakah kemampuan memahami dan menyampaikan kebutuhan terus berkembang sesuai tahapnya.
Kelima, lihat kemandirian sehari-hari: memakai pakaian, merapikan barang, makan, mengikuti rutinitas, atau meminta bantuan ketika diperlukan.
Keenam, amati rasa ingin tahu dan cara anak memecahkan masalah. Pertanyaan, permainan imajinatif, mencoba ulang setelah gagal, dan mencari cara baru merupakan bagian penting dari proses belajar.
Ketujuh, perhatikan perubahan dari waktu ke waktu. Pertanyaan yang lebih berguna daripada “Apakah ia sama seperti teman sekelas?” adalah “Apa yang sekarang bisa ia lakukan yang tiga atau enam bulan lalu masih sulit?”
Mengapa Membandingkan dengan Teman Sekelas Bisa Menyesatkan?
Membandingkan sesekali mungkin membantu orang tua menyadari adanya perbedaan, tetapi perbandingan bukan alat diagnosis. Teman sekelas tidak selalu mempunyai usia persis sama, pengalaman belajar sama, temperamen sama, atau kondisi keluarga yang sama. Bahkan anak yang lahir hanya beberapa bulan berbeda dapat berada pada tahap keterampilan yang tidak identik.
HealthyChildren menjelaskan bahwa pada usia sekolah dasar kekuatan dan tantangan unik anak mulai semakin terlihat. Ada anak yang menonjol dalam seni, sains, gerak, atau hubungan dengan hewan, sementara anak lain membutuhkan dukungan pada perhatian, keterampilan sosial, membaca, atau pengelolaan suasana hati. Melihat kekuatan sekaligus tantangan membantu orang tua menghindari pandangan yang terlalu sempit.
Yang perlu dihindari adalah menjadikan perbandingan sebagai tekanan: “Temanmu saja bisa,” atau “Kamu kan sudah kelas sekian.” Kalimat seperti ini tidak menjelaskan keterampilan apa yang perlu dilatih dan dapat membuat anak menghubungkan nilai dirinya dengan performa.
Cara Mendukung Perkembangan Emosi Anak di Rumah
Mulailah dengan memberi nama pada emosi. Ketika anak kesal karena tugas sulit, Bunda dapat berkata, “Kamu kecewa karena belum berhasil. Kita coba pelan-pelan.” Validasi bukan berarti semua perilaku dibolehkan; orang tua tetap dapat menetapkan batas sambil mengakui perasaannya.
Berikan kesempatan berlatih, bukan hanya instruksi. Permainan bergiliran membantu kontrol impuls. Bermain peran membantu anak mencoba percakapan sosial. Membaca cerita memberi kesempatan membahas perasaan tokoh. Rutinitas rumah yang konsisten membantu anak memprediksi apa yang akan terjadi berikutnya.
Gunakan pertanyaan yang membuka percakapan. Alih-alih hanya bertanya “Nilaimu berapa?”, coba “Bagian mana yang paling sulit hari ini?”, “Apa yang membuat kamu bangga?”, atau “Ada hal yang membuatmu kesal di sekolah?” Pertanyaan seperti ini mengirim pesan bahwa pengalaman anak lebih penting daripada angka semata.
UNICEF menekankan bahwa pengasuhan yang hangat dan penuh dukungan membantu membangun fondasi keterampilan sosial dan emosional. Emosi seperti sedih, takut, atau frustrasi adalah bagian normal dari tumbuh kembang; perhatian lebih diperlukan ketika emosi negatif sangat intens, berlangsung lama, dan mulai mengganggu kehidupan sosial, keluarga, atau sekolah.