HALLOBUNDA.CO – Saat Bunda berkata, “Ambil sepatu, yuk,” si Kecil langsung menuju rak. Namun ketika ditanya, “Mau pakai sepatu yang mana?”, ia hanya menunjuk. Situasi ini menunjukkan dua keterampilan yang berbeda: memahami pesan dan mengungkapkan keinginan. Keduanya dikenal sebagai bahasa reseptif dan ekspresif. Memahami perbedaannya membantu Bunda memilih stimulasi yang tepat tanpa terburu-buru membandingkan anak dengan teman seusianya.
Apa Itu Bahasa Reseptif dan Ekspresif?
Bahasa reseptif adalah kemampuan memahami kata, kalimat, pertanyaan, dan instruksi yang didengar atau dibaca. Contohnya, anak menoleh saat namanya dipanggil atau mengambil benda yang diminta. Bahasa ekspresif adalah kemampuan menyampaikan pesan melalui gestur, suara, kata, atau kalimat. Contohnya, anak menunjuk gelas sambil berkata “minum”. Keduanya berkembang bersama, tetapi kecepatannya tidak selalu sama.
Contoh Perbedaan dalam Keseharian
Ketika Bunda berkata, “Taruh boneka di meja,” lalu anak melakukannya, ia menggunakan bahasa reseptif. Ketika anak mengatakan, “Boneka tidur di sini,” ia menggunakan bahasa ekspresif. Perhatikan pula konteks: anak mungkin memahami instruksi karena rutinitas atau petunjuk gestur. Karena itu, satu contoh saja tidak cukup untuk menilai kemampuan bahasa secara menyeluruh.
Mengapa Kedua Kemampuan Ini Penting?
Bahasa reseptif membantu anak mengikuti percakapan, memahami cerita, dan mengenali arahan. Bahasa ekspresif membantu anak meminta bantuan, bercerita, menyatakan perasaan, serta berinteraksi dengan orang lain. Perkembangan keduanya dipengaruhi usia, kesempatan berkomunikasi, pendengaran, dan kebutuhan perkembangan individual. Bunda dapat memberi ruang untuk mendengar sekaligus merespons, bukan sekadar meminta anak mengulang kata.
7 Cara Melatih Bahasa Reseptif dan Ekspresif Anak
1. Sebut benda sambil menunjuk
Saat bermain, ucapkan “bola merah” atau “sendok kecil” sambil memperlihatkan benda. Tunggu respons anak, lalu beri contoh kata yang bisa ia gunakan.
2. Beri instruksi singkat
Mulai dengan satu langkah, misalnya “Ambil buku.” Jika sudah nyaman, coba dua langkah sesuai kemampuan: “Ambil buku, lalu taruh di meja.”
3. Tawarkan pilihan nyata
Tunjukkan dua benda dan tanyakan, “Mau apel atau pisang?” Terima jawaban berupa tatapan atau gestur, lalu modelkan kata yang sesuai.
4. Perluas ucapan anak
Jika anak berkata “mobil”, tanggapi dengan “Iya, mobil biru melaju.” Tambahan satu atau dua kata memperkaya contoh bahasa tanpa mengoreksi secara berlebihan.

Subscribe to my channel