Secara tidak menduga, R lalu mengaku dirinya baru saja membakar sekolahnya, kemudian warga membawa siswa tersebut ke Polsek Pringsurat.
Setelah dibawa ke Polsek, dengan rasa menyesal raut wajah R tampak tetap tenang.
“Motif dari pelaku adalah merasa sakit hati karena sering dibully teman-temannya, termasuk oleh guru siswa ini kurang diperhatikan,” jelas AKBP Agus Puryadi, dikutip dari msn.com.
“Artinya ini adalah subjektif pada perasaan si siswa,” lanjut Agus Puryadi.
4 Metode Ajarkan Mengelola Emosi pada Anak
Kejadian ini menjadi perhatian publik, betapa tidak, bagaimana bisa anak seusia itu terbersit keinginan untuk membakar sekolah. Bahkan ia benar-benar merealisasikannya dengan matang dan cukup berhasil.
Bullying memang tidak dibenarkan dan memang berdampak sangat buruk pada korbannya.
Namun ide membakar sekolah dari korban bullying juga tidak dapat dibenarkan, karena kemungkinan anak tersebut tidak dapat mengelola emosinya.
Untuk mengetahui tips agar anak terhindar dari bullying dapat dibaca di sini.
Pada awal tumbuh kembang, anak akan menjalin hubungan timbal balik dengan orang-orang yang mengasuhnya.
Interaksi anak dengan orang terdekat mempengaruhi optimalitas perkembangan sosial anak. Meskipun umumnya anak akan mengalami tahapan perkembangan emosi yang sama.
Kecepatan perkembangan emosi anak akan berbeda satu dengan lain, pengalaman belajar anak adalah salah satu yang memiliki dampak penting.
1. Ajarkan Metode Spontan
Anak melakukan proses belajar melalui teknik spontanitas, si Kecil akan belajar dalam mengekspresikan perasaan dan emosi yang dirasakan melalui proses spontan.
Pada tahapan ini, anak-anak sering menunjukkan bentuk emosi yang tidak terduga.
Jangan kaget apabila respons emosi yang ditunjukkan anak seringkali tidak sesuai dengan yang diharapkan orang tua.
Misalnya, saat pertama kali anak usia bayi diberikan mainan terompet, ada anak akan menunjukkan ekspresi menangis ketimbang tertawa.