Stunting Bukan Sekadar Anak Pendek: Kenali Tanda dan Dampaknya

Syafaria Hadyandari
11 Min Read
Ibu mendampingi pengukuran tinggi badan anak di layanan kesehatan
Ibu mendampingi pengukuran tinggi badan anak di layanan kesehatan
Pemantauan tren tinggi dan berat badan anak pada kurva pertumbuhan
Pemantauan tren tinggi dan berat badan anak pada kurva pertumbuhan

Tanda Pertumbuhan Anak yang Perlu Diperhatikan

Stunting tidak dapat dipastikan hanya melalui penampilan fisik. Meski demikian, beberapa kondisi berikut sebaiknya mendorong orang tua memeriksa catatan pertumbuhan anak:

  • Panjang atau tinggi badan tidak bertambah sesuai perkiraan.
  • Kurva tinggi badan bergerak mendatar atau turun melewati beberapa garis pertumbuhan.
  • Berat badan sulit naik atau justru menurun.
  • Anak sering mengalami diare, batuk, demam, atau infeksi lain.
  • Kemampuan makan sangat terbatas atau terdapat masalah mengunyah dan menelan.
  • Anak tampak lemas, pucat, kurang aktif, atau perkembangannya terlambat.
Baca Juga  Camilan Sehat yang Mendukung Energi Anak Aktif

Tanda-tanda tersebut tidak otomatis berarti stunting. Namun, pemeriksaan lebih awal dapat membantu menemukan masalah nutrisi atau kesehatan sebelum gangguan pertumbuhan menjadi lebih berat.

Mengapa Stunting Dapat Terjadi?

Stunting umumnya tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Risiko dapat dimulai sejak sebelum kehamilan, selama masa kehamilan, maupun setelah anak lahir. Salah satu periode terpenting adalah 1.000 Hari Pertama Kehidupan, yaitu sejak awal kehamilan hingga anak berusia sekitar dua tahun.

Asupan nutrisi yang belum mencukupi

Anak membutuhkan energi, protein, lemak, vitamin, dan mineral untuk membentuk jaringan tubuh. Setelah enam bulan, ASI perlu dilengkapi MPASI yang sesuai usia, cukup jumlahnya, beragam, aman, dan padat gizi.

Baca Juga  Minum dan Makan Cukup: Kunci Menjaga Mood Belajar Anak

Kondisi kesehatan ibu

Status gizi sebelum dan selama kehamilan, anemia, infeksi, jarak kehamilan, serta kualitas pemeriksaan kehamilan dapat memengaruhi kondisi janin.

Infeksi berulang

Diare dan penyakit berulang dapat menurunkan nafsu makan, mengganggu penyerapan zat gizi, serta meningkatkan kebutuhan energi.

Sanitasi dan air bersih

Air yang tidak aman, kebiasaan mencuci tangan yang belum baik, serta sanitasi buruk dapat meningkatkan paparan kuman.

Pola asuh dan stimulasi

Pemberian makan responsif, keamanan makanan, akses pelayanan kesehatan, dan stimulasi perkembangan turut mendukung tumbuh kembang.

Dampak Stunting Bukan Hanya pada Tinggi Badan

Stunting tidak hanya terlihat melalui tinggi badan. Pesan ini sejalan dengan penjelasan WHO dan UNICEF bahwa stunting berkaitan dengan terhambatnya potensi pertumbuhan fisik dan kognitif anak.

Baca Juga  Anak Bunda Obesitas? Lakukan 2 Tips Berikut!

Namun, hubungan tersebut perlu disampaikan secara hati-hati. Tidak berarti setiap anak yang mengalami stunting pasti mempunyai kecerdasan rendah atau pasti mengalami penyakit tertentu. Perkembangan anak dipengaruhi oleh genetik, kualitas pengasuhan, pendidikan, stimulasi, kesehatan, dan lingkungan.

  • Perkembangan kognitif dan kemampuan belajar yang kurang optimal.
  • Pertumbuhan fisik yang tidak mencapai potensi maksimal.
  • Kesehatan dan daya tahan tubuh yang dapat terganggu.
  • Risiko masalah kesehatan kronis pada masa berikutnya.
  • Produktivitas yang lebih rendah ketika dewasa pada tingkat populasi.

Share this Article
Reading: Stunting Bukan Sekadar Anak Pendek: Kenali Tanda dan Dampaknya