HALLOBUNDA.CO – Ketika kabar bencana dari Nusa Tenggara Timur kembali memenuhi lini masa, ungkapan “Pray for NTT” menjadi bentuk empati banyak orang. Namun setelah doa, perhatian perlu bergerak pada pertanyaan yang lebih konkret: siapa yang paling mudah kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar, dan bantuan seperti apa yang benar-benar aman?
Balita, anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan perempuan termasuk kelompok yang memerlukan perhatian khusus dalam situasi darurat. Krisis dapat memutus akses pangan bergizi, air bersih, layanan kesehatan, tempat menyusui yang nyaman, sanitasi, obat, dan perlindungan. Pada saat yang sama, penyakit infeksi, stres, kepadatan pengungsian, serta perubahan pola makan dapat memperbesar risiko masalah gizi.
UNICEF menjelaskan bahwa krisis kemanusiaan kerap ditandai terbatasnya makanan yang aman dan terjangkau, air bersih, serta terputusnya layanan kesehatan dan gizi. Dampak terbesar banyak ditanggung anak dan perempuan. Karena itu, Nutrition in Emergency atau gizi dalam situasi darurat perlu menjadi bagian dari respons sejak awal, bukan menunggu kondisi anak memburuk.
Apa Itu Nutrition in Emergency?
Nutrition in Emergency (NiE) bukan sekadar pembagian makanan. Pendekatannya mencakup pencegahan dan penanganan malnutrisi, perlindungan praktik pemberian makan bayi dan anak, pemantauan kondisi gizi, ketersediaan layanan kesehatan-gizi, air dan sanitasi yang aman, serta koordinasi rujukan bagi anak atau ibu yang membutuhkan pertolongan.
Dalam bencana, bantuan yang terlihat sederhana dapat memiliki konsekuensi besar. Misalnya, pemberian susu formula tanpa asesmen, air aman, alat steril, dan sistem pendampingan dapat menambah risiko bagi bayi. Sebaliknya, ibu menyusui perlu memperoleh makanan, air, rasa aman, privasi, dan dukungan agar dapat terus menyusui bila memungkinkan.