HALLOBUNDA.CO – Ketika si Kecil bersuara “aa”, mengetuk meja sambil berkata “tok-tok”, atau tertawa saat mendengar “brum” dari mobil mainan, sebenarnya sedang terbuka peluang untuk berkomunikasi. Bunda tidak harus langsung mengejar kata yang sempurna. Dalam latihan meniru bunyi anak, yang penting justru terciptanya pola sederhana: dengar, tiru, tunggu, lalu balas. Pola ini membuat permainan suara terasa seperti percakapan kecil dan memberi anak kesempatan bereksperimen dengan suara tanpa tekanan.
Mengapa Permainan Meniru Bunyi Bisa Mendukung Komunikasi Anak?
Kemampuan bicara dan bahasa berkembang melalui interaksi. Materi early intervention ASHA menjelaskan bahwa ketika orang tua meniru suara, gestur, ekspresi, atau tindakan anak, respons tersebut dapat mendukung koneksi dan interaksi bolak-balik—bagian penting dari komunikasi awal. CDC juga menekankan bahwa anak belajar melalui berbicara, bermain, dan berinteraksi. Karena itu, permainan bunyi sebaiknya bukan sekadar meminta anak “ikuti Bunda”, tetapi menjadi kegiatan saling merespons.
Mulai dengan Mengikuti Anak, Bukan Selalu Menyuruh Meniru
Jika anak belum tertarik meniru, Bunda bisa membalik permainan: tirukan dulu bunyi yang dibuat anak. Saat ia berkata “ba”, balas “ba”. Ketika ia mengetuk balok sambil bersuara, ikuti ritmenya. Setelah beberapa giliran, tambahkan satu bunyi baru yang masih sederhana. Pendekatan ini menjaga permainan tetap responsif. Penelitian klinis juga menunjukkan bahwa imitasi langsung bukan satu-satunya strategi untuk memfasilitasi perkembangan bicara awal, terutama pada anak yang belum mudah meniru suara.
1. Balas bunyi spontan anak
Perhatikan suara yang muncul saat anak bermain, makan, atau melihat sesuatu yang menarik. Jika ia bersuara “mmm”, Bunda dapat menirukan “mmm” dengan ekspresi hangat. Tunggu reaksinya. Bila anak mengulang, balas lagi. Tujuannya membangun pengalaman bahwa suaranya mendapat respons.
2. Pasangkan bunyi dengan benda favorit
Gunakan objek yang sudah menarik perhatian anak. Mobil bisa ditemani “brum-brum”, bola dengan “boing”, atau boneka kucing dengan “meong”. Buat satu model suara, lalu beri jeda. Bunyi yang terkait dengan benda nyata membantu permainan terasa bermakna, bukan seperti latihan formal.
3. Mainkan kontras suara
Coba dua bunyi yang berbeda, misalnya “aaa” dan “mmm”, atau “ting” dan “bum”. Ucapkan perlahan dengan ekspresi wajah yang jelas. Anak tidak perlu langsung meniru tepat. Respons berupa tatapan, senyum, gerakan mulut, atau suara lain tetap dapat menjadi bagian dari interaksi.

Subscribe to my channel